double income

supermom

Rabu, 29 Juni 2011

ANALISIS HARGA GULA DAN PETANI TEBU RAKYAT

A

NALISIS HARGA GULA DAN PETANI TEBU RAKYAT

Memet Hakim

(Emha Training Center & Advisory Services)

Mungkin banyak yang tidak berpikir panjang pada saat menentukan harga dasar gula. Dengan mudah harga dasar ditetapkan melalui perhitungan harga pokok terlebih dahulu, kemudian tanpa ada penambahan “jasa petani” selama 12 bulan menunggu, merawat, membiayai tanaman tebu ditentukan menjadi harga dasar gula. Bayangkan dari harga pokok gula sebesar Rp 6.891/kg, harga dasar ditetapkan hanya Rp 7.000. Begitu rendahkah penghargaan pemerintah terhadap petani ? Sebenarnya berapa sih harga gula yang layak per kg nya, sehingga para petani dan pengusaha tertarik untuk mengembangkan komoditi ini ?

Analisis sisa hasil usaha atau keuntungan petani seharusnya minimal 60 % dari harga pokok produksi, agar para petani dapat tetap hidup dan berkembang serta merangsang para petani agar tetap mau menanam tebu. Hal ini disebabkan karena mereka harus menunggu selama 1 tahun untuk mendapatkan hasil panen serta mengeluarkan dana yang tidak sedikit, belum lagi bicara jumlah biaya yang harus dikeluarkan karena tidak semua biaya disediakan oleh pihak perbankan. Upah atau gaji petani itu sendiri yang tidak pernah dihitung, resiko yang harus dihadapi petani terhadap gangguan iklim, penetapan rendemen oleh pabrik, angkutan, dll, dll. Sebagai perbandingan laba kotor per tahun pada tanaman karet sekitar 68 % dan pada kelapa sawit sekitar 50 %. Kalau dibandingkan dengan keuntungan pada consumer goods maka prosentasenya akan jauh lebih tinggi akibat perputaran barang sangat cepat.

Pemerintah selama ini terlihat belum melindungi petani tebu dalam arti sebenarnya, terbukti pemerintah lebih senang “membeli” gula milik petani luar negeri dibanding petani bangsanya sendiri. Dengan alasan “melindungi konsumen” sebenarnya pemerintah melindungi “importir gula” dan para pedagang. Pemerintah selalu terlihat menekan petani, dengan harga dasar yang tidak rasional dilihat dari kacamata usaha tani. Pemerintah lupa kalau gula walaupun merupakan makanan pokok, tapi sifatnya elastis, artinya dikala harga gula mahal maka pembelian akan berkurang dengan sendirinya, terutama gula yang dikonsumsi lewat makanan olahan.

Pemerintah telah menentukan harga dasar gula Rp 7.000/kg per 4 Mei 2011, sedang harga pokok gula sebesar 6.891/kg, artinya harga dasar dan harga pokok selisihnya hanya 1,6 % saja selama setahun untuk biaya hidup petani. Sungguh tidak manusiawi dan begitu rendahnya penilaian pemerintah terhadap para petani tebu.

Harga gula di pasar dunia bulan Mei USD 607 (setara (Rp 5.206/kg ). Seperti diketahui gula yang dijual dipasar dunia merupakan produksi gula kelebihan (sisa) negara masing-masing, artinya walau harga diluar lebih baik, namun kebutuhan dalam negeri masing-masing lebih diutamakan. Sebagai perbandingan harga gula dibeberapa negara sebagai berikut Singapura Rp 10.225 (importir), Filipina Rp 12.750 (importir), Malaysia Rp 6.500 (importir dan subsidi).

Pemerintah kita terlihat seolah-olah lebih memperhatikan konsumen dengan menekan harga sedemikian rupa, sehingga petani tebu dianggap ‘pekerja sosial” yang tidak memerlukan “keuntungan” dari usaha taninya, hal ini terlihat dari perhitungan harga pokok Rp 6.891 dan penetapan harga dasar Rp 7.000 (101,6 %). Jika pemerintah fair, tentu akan memperhitungkan biaya uang, waktu dan pengorbanan petani yang harus menunggu selama 1 tahun untuk mendapatkan hasilnya, tentu akan berfikir lain. Petani tebu saat ini hanya dapat mengandalkan teknologi do’a, semoga saja hasil lelangnya diatas Rp 9.000, walau kenyataannya harga mulai jatuh ke angka sekitar Rp 7.000. Jika dikurangi PPN harganya buat perusahaan menjadi Rp. 6.800 (Kompas 11 Juni 2011).

Idealnya margin yang diperoleh petani minimal 60 % dari harga pokok penjualan, sehingga harganya menjadi Rp 11.026/kg. Penetapan harga demikian masih seimbang dengan negara-negara pengimpor gula lainnya seperti Singapura dan Filipina. Dengan adanya margin usaha tani yang pantas, tentu akan mendorong para petani mengembangkan tanaman tebu dan industri gula secara keseluruhan yang akhirnya swasembada gula dapat dicapai. Dengan penetapan ini sebagian petani akan mengkonversi tanaman tebu menjadi tanaman yang lebih menguntungkan.

Dari simulasi dibawah ini terlihat harga gula ideal adalah sekitar Rp 11.000 – Rp 12.000/kg, mungkin dilihat dari sisi konsumen agak dirugikan, namun dana yang selama ini digunakan untuk memperkaya petani bangsa lain akan digunakan untuk memperkaya petani bangsa sendiri. Kita dapat mencontoh Jepang, dimana harga berasnya mahal sekali, tapi pemerintah Jepang tetap melindunginya.

Simulasi analisa Usaha Tani Tebu

No

Harga Gula

Uraian

7,000

8,000

9,000

10,000

11,000

12,000

13,000

14,000

1

Protas Tanaman (ton/ha)

80

80

80

80

80

80

80

80

2

Protas Gula (Rend. 6.5 %)

5,200

5,200

5,200

5,200

5,200

5,200

5,200

5,200

3

Pendapatan

26,424

29,856

33,288

36,720

40,152

43,584

47,016

50,448

4

Biaya /ha










Biaya Tanaman

25,000

25,000

25,000

25,000

25,000

25,000

25,000

25,000


Biaya Pengolahan

-

-

-

-

-

-

-

-


Biaya Umum

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000


Total Biaya Produksi

28,000

28,000

28,000

28,000

28,000

28,000

28,000

28,000


Harga Pokok (Rp/kg)

5,385

5,385

5,385

5,385

5,385

5,385

5,385

5,385

5

Laba Kotor/ha

(1,576)

1,856

5,288

8,720

12,152

15,584

19,016

22,448

6

% Laba thd Biaya Prod.

(5.62)

6.62

18.88

31.14

43.40

55.65

67.91

80.17

Dari tabel diatas terlihat bahwa pada harga dasar Rp 7.000 dan tingkat produktivitas tanaman 80 ton saja ternyata hasil usaha taninya negatif (merugi). Pada harga Rp 8.000 dan Rp 9.000/kg saja, petani belum dapat dikatakan untung, karena saldonya rendah sekali (dibawah kewajaran). Baru pada harga Rp10.000 petani mendapatkan sisa hasil usaha yang agak memadai, walau belum cukup wajar. Sebaiknya harga gula di tingkat petani/produsen ditetapkan disekitar Rp 12.000/kg, dimana saldonya mencapai 55.65 %, sehingga cukup untuk hidup dan mengembangkan usaha taninya. Dengan harga sekitar Rp12.000 tentu para petani tebu akan berlomba agar produktivitasnya meningkat serta ada upaya ekstensifikasi. Demikian pula para pengusaha tidak akan ragu-ragu membangun pabrik gula karena harga gula dijamin oleh pemerintah.

Pertanyaannya adalah mengapa pemerintah bahkan perbankan bersedia membiayai petani luar negeri melalui impor gula, namun tidak bersedia membiayai seluruh petani tebu untuk memproduksi gula di tanah air sendiri. Fakta dilapangan ternyata petani tebu TRB (Tebu Rakyat Bebas) tidak mendapatkan fasilitas kredit, petani TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi) juga sebagian hanya mendapatkan kurang dari plafon yang seharusnya. Plafon kredit dengan realisasi kebutuhan sebenarnya sudah semakin jauh, harga dasar gula semakin tidak menarik, jadi apakah petani masih mau menanam tebu ?

Simulasi produktivitas dan margin usaha tani dengan tingkat produktivitas tebu sebanyak 80 ton/ha, rendemen antara 6 – 12 % pada harga dasar Rp 7.000, margin usaha taninya baru dapat mencapai 60 % jika rendemennya diatas 10 %, suatu yang mustahil dicapai petani saat ini apalagi di pulau Jawa. Merupakan tugas pemerintah untuk meningkatkan produktivitas gula baik rendemen maupun jumlah tebunya.

Simulasi Hasil Usaha Tani berbagai tingkat rendemen gula Harga Dasar Rp 7.000/kg

No

Uraian

Rendemen Gula (%)

6

7

8

9

10

11

12

1

Produktivitas Tanaman(ton/ha)

80

80

80

80

80

80

80

2

Protas Gula (Rend 6-12 %)

4,800

5,600

6,400

7,200

8,000

8,800

9,600

3

Harga Jual (Rp/kg x 1000)

7

7

7

7

7

7

7

4

Pendapatan

24,576

28,272

31,968

35,664

39,360

43,056

46,752

5

Biaya /ha









Biaya Tanaman

25,000

25,000

25,000

25,000

25,000

25,000

25,000


Biaya Pengolahan

-

-

-

-

-

-

-


Biaya Umum

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000


Total Biaya Produksi

28,000

28,000

28,000

28,000

28,000

28,000

28,000


Harga Pokok (Rp/kg)

5,833

5,000

4,375

3,889

3,500

3,182

2,917

6

Laba Kotor/ha

(3,424)

272

3,968

7,664

11,360

15,056

18,752


% Laba Kotor/ha

(12.23)

0.97

14.17

27.37

40.57

53.77

66.97

Dengan simulasi diatas ternyata pada tingkat rendemen 6 % kerugian mencapai 12.23 %, pada rendemen 7 % tidak negative tapi tetap merugi, pada tingkat rendemen 8-11 % petani masih belum merasakan keuntungan walau sudah tidak negatif lagi. Baru pada tingkat rendemen 12 % petani dapat hidup dan melakukan pengembangan, tapi secara teknis untuk mencapai rendemen diatas 7 sudah termasuk sulit, apalagi jika bermitra dengan pabrik gula BUMN.

Dengan kondisi seperti ini jangan harap tahun 2014 Indonesia dapat mencapai swasembada gula, mungkin sampai 2025 pun tetap akan sulit dicapai. Sebaiknya pemerintah menyadari bahwa terpuruknya Indonesia sebagai Negara agraris, masalahnya pemerintah tidak mengatur tata niaga produk agrobisnis secara komprehensif dan terstruktur. Tataniaga produk agribisnis hamper semuanya diatur mekanisme pasar yang dibelakangnya dikendalikan oleh para pedagang besar, cukong atau spekulan.

Semoga dengan tulisan ini para pemegang kebijakan dapat mempertimbangkan betapa petani tebu yang menderita ini harus didorong untuk lebih semangat dan dapat menarik petani lainnya agar mau menanam tebu agar ketergantungan gula impor benar-benar dapat direalisasikan. Upaya teknis dan keuangan rasanya akan sirna begitu saja jika harga dikendalikan tetap rendah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar